Lama tak bersua dengan Negara serumpun ini, namun kembali seakan-akan dari belakang kita seperti dihujam pisau, tiba-tiba lagu Rasa Sayange yang notabene milik Indonesia (Ambon) menjadi lagu resmi pariwisata Malaysia . Kita bisa berbuat apa?!. Bagaikan Gledek di siang bolong, kita masyarakat akar rumput hanya termangu dan Pemerintahnya pun hanya diam seribu bahasa!!?
Belum selesai masalah penderitaan Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia, hak paten tempe, batik, angklung sekarang lagu yang begitu familiar di telinga orang indonesia ini menjadi bahan promosi pariwisata negeri jiran tersebut. Kalau mau dipikir, berapa sich luas malaysia?
Dari sekian ribu kilometer luas Malaysia, apa aja sich pariwisata yang ditawarkan pemerintah Malaysia? Sedangkan luas pantai Malaysia kalah jauh dengan Indonesia yang notabene negara kepulauan. Paling-paling gedung Petronas yang merupakan simbol keberhasilan pembangunan menarik untuk dijadikan pariwisata.
Inilah sebuah parodi Negara ini, akar rumput selalu membicarakan masalah-masalah yang terjadi pada tataran mereka, namun yang namanya akar rumput, jarang suaranya sampai ke pemerintah. Gimana kita mau menganggap pemerintah sekarang serius mengurusi Negara, wong yang diurus perutnya sendiri. Lihat saja pemberitaan hangat di media-media Indonesia sekarang ini! Para aktor politik kita sibuk mencalonkan diri menjadi Presiden 2009!!!
Kontradiktif dengan yang terjadi media-media di Malaysia, mereka malah sibuk mengiklankan pariwisata mereka ke dunia luar. Iklan pariwisata mereka buat dengan sedemikian menariknya dari website hingga televisi. Coba bandingkan iklan pariwisata dari Dinas Pariwisata Indonesia!!! Dengaan motonya bhineka tunggal ika. Ya tuhan…sebobrok ini kah bangsa kita, katanya kita banyak menghasilkan juara-juara olympiade di bidang sains dan matematika, tapi kok soal ide dan kreatifitas kita kalah jauh dari murid kita. 200 juta jiwa pun dikalahkan dalam sekejab oleh 20 juta jiwa, bayangkan!.
Lalu apa lagi yach kira-kira yang menjadi hak paten malaysia berikutnya???